Cari

Wopie-chan

catatan random seorang iim

Teacher’s Life : Part of My Life

Dengan menyebut nama Allah~

Saat kecil menjadi guru, bukanlah suatu impian yang serius.

Saat kecil cita-cita saya tidak pernah tetap. Jadi dokter anak, power ranger, doraemon, ultraman, pilot, pramugari, tentara, penulis, pengarang, pembuat komik, pelukis, pemusik, sailormoon, guru dsb dst dll 😂😂  totally absurd.

Ketika cita-cita itu tersaring, dokter anak, adalah yang paling lama bertahan. Bahkan saya ingat, nenek dulu pernah berdoa agar saya menjadi dokter anak :’) Qodarullah, masuk Fakultas Kedokteran adalah bukan pilihan saya saat akan kuliah.

Masa-masa kecil hingga SMP, saya habiskan dengan menyukai dunia imajinasi, menulis akan khayalan saya, dan menggambarkannya. Bahkan dulu, ‘buku gambar’ saya adalah dinding rumah saya. Karena tidak cukup hanya lembaran kertas, bagi seorang Iim kecil :’)

Sejarah dan Geografi adalah dua bidang yang saya sangat suka. Karena saking sukanya, nilai mata pelajaran itu benar-benar bagus. Dan buku anak SD tidaklah cukup untuk saya, buku SMP dan SMA pun saya lahap.

Di SMP lah saya bercita cita ingin belajar ke luar negri, yang Qodarullah belum Allah takdirkan saat ini, Wallahu’ala di masa yang akan datang.

Semua berubah di masa SMA. Saya menyukai matematika. IPA adalah pelajaran menyenangkan. Komputer adalah benda mengasyikan. Lupa sudah dengan Sejarah dan Geografi, karena masuk jurusan SMA adalah IPA.

Saya lulus SMA dengan keadaan labil. Jurusan dan kampus yang dipilih lebih karena faktor orang tua.

Qadarullah, setelah lulus SMA saya tidak langsung kuliah, namun bekerja. Pekerjaan pertama adalah menjadi Guru. Guru privat.

Sampai akhirnya saya kuliah di bidang Teknologi Informasi, guru privat adalah pekerjaan saya. Yangvterus berlanjut. 

Serius. Pekerjaan. Tempat menghasilkan uang.

Ternyata tidak hanya uang yang saya dapat, pengalaman, dan moment-moment yang membuat saya tersadar akan diri saya.

Menjadi seorang guru.

Semakin hari, saya semakin menyadari, bahwa diri saya menyukai dunia pendidikan, dunia belajar, dunia berbagi pengetahuan, dunia keilmuan, dan yang berhubungan dengannya.

Apakah saya pernah menyesal? Pernah. Ada masa saya bertanya-tanya kepada Allah dan diri saya, kenapa harus mengajar? Mengapa harus mendidik? Bukankah dulu saya pernah ingin menjadi seorang wanita karir yang sukses (secara duniawi)? 

Jawaban itu bermunculan. Ditemukan dengan berjalannya waktu, pengetahuan yang bertambah, serta iringan doa yang hadir 

Apakah sekarang  menyesal menjadi guru? Tidak. Itu jawaban saya saat ini.

Mendidik adalah bagian diri saya, saat ini. 😊

Barakallahu fiikum~

Sungguh tiada daya dan upaya, kecuali hanya karena kehendak Allah, Tuhan Semesta Alam.

Iklan

Karena Kelak Mereka Akan Berdiri Sendiri, Tanpa Kita

Melatih anak-anak mandiri, ternyata tidak mudah. Seriusan. Itu yang saya tangkap pada curahan hati para mahmud mahmud di WAG Bunda Sayang.
Membiarkan anak memakai baju dan sepatu sendiri, makan sendiri, dan mengerjakan apa apa sendiri.

Tidak sekedar butuh niat dan tekad yang kuat. Tapi juga konsistensi yang berkelanjutan dan yang terpenting, KESABARAN mendampingi. 

Ketika tangan-tangan kecil, berusaha memasukkan sendok penuh makanan ke mulutnya, sedang di sekitarnya berjatuhan remahan-remahan makanan itu. Padahal lantai baru saja dipel. Atau karpet yang dipakai masih baru. Belum lagi mulut yang belepotan. Baju yang tampak awut awutan.

Ketika kaki-kaki kecil berusaha masuk dalam sepatu, padahal emaknya lagi buru-buru. Mana lagi sepatu ketuker tuker.

Ketika mainan terhambur di setiap pojok rumah, padahal mertua mau datang. Sedang si anak, dengan tangan mungilnya memasukkan mainan sambil dimainin ulang.

Emak-emak familiar?

😊😊😊

Inilah kurang lebih tugas game level 2. Melatih kemandirian anak. Berhubung saya belum diberikan amanah berupa suami apalagi anak, tugas yang diberikan pada saya berbeda.

Namun pembelajaran yang saya dapat dalam game ini, luar biasa.

Emak emak keren yang sharing kegiatan bagaimana memandirikan anak. Tabarakallahu. 💜

Sungguh ibu adalah sosok yang luar biasa.

Tak jarang, harus tega pada anak. Untuk bisa konsisten dalam melatih kemandirian tersebut.

Tentu, menyuapi mereka jauh lebih mudah, tidak menghabiskan banyak waktu, lantai dan karpet tetap bersih.

Tentu, memakaikan mereka sepatu jauh lebih mudah, tidak lama, dan tidak akan tertukar.

Tentu, membereskan mainan anak lebih cepat, tidak memakan banyak waktu.

Namun kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi? Bukankah kelak kita akan meninggalkan mereka? Atau mereka yang akan meninggalkan kita?

😊😊😊

Vidoe diatas dishare dalam sesi diskusi Game Bunda Sayang Level 2, Melatih Kemandirian.

Bagaimana induk burung mengajari anaknya mandiri mencari kerang. Awalnya anak burung takut dan sempet kapok karena kena ombak besar datang. Tapi induk burung tetap tega mendorong si anak menghadapi ombak. Dan akhirnya si anak pun belajar dari keong dan malah mencari cari ombak besar.

Rasa sabar, telaten, konsisten dan tega.

Pastikan porsinya pas. Maka dengan modal kemandirian itu, kelak mereka akan belajar dari yang lain. 😊

Barakallahu fiik untuk ilmu yang InsyaAllah bermanfaat ini.

💜

Kelas Bunda Sayang

Alhamdulillah. Sudah lulus dari kelas matrikulasi IIP, maka step selanjutnya menanti 😊 kelas bunda sayang.

Pikiran saya tentang kelas ini adalah aduh aku belum nikah kok masuk kelas ini yaa, gimana bisa 😅 bakal susah sepertinya.

Dan setelah memasuki game level1..

Jeng jeng jeng

I’m so lucky to be there 🙂 Alhamdulillah

Materi di kelas bunda sayang ini keren banget. Plus prakteknya itu loo yamg harus dilaporin, membuat semuanya jadi sesuatu 😝

Dan di WAGrup saya ga single sendirian lagi dongs 😝 ada mba erry yang juga masih single di sana.

Nah sekarang, tinggal bagaimana menjalankan komitmen. Komitmen untuk satu tahun ke depan belajar dan membersamai kelas ini.

Semangat 💪💪💪 

Ramadhan #day24

Dengan nama Allah, Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Ada yang beda di tahun ini. Tidak sama lagi. Ah, memang sejatinya berbeda. Karena yang sudah terlewat tidaklah sama dengan saat ini.

Ke mana perginya target dan mimpi itu?

Apa waktu yang menelannya bersama detik-detik terlewat?

Atau hatimu yang tak suci lagi? Berlumuran lumpur dosa dan mengeras menjadi kerikil-kerikil dosa?

Maka mohon ampunlah wahai diriku. Meminta maaflah kepada penciptaMu.

Tak terbayangkah kau akan rumahmu kelak bernama kubur?

Atau kau lupa penjelasan tentang Hari Pembalasan?

Coba kau ingat-ingat tentang sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan.

10 hari itu kini tak lama lagi. Entah apa bisa kau nikmati lagi bulan keberkahan ini tahun depan.

Mohon ampunlah pada Pemilikmu, wahai diriku :’

Yeay Lulus!

Tabarakallahu, Barakallahu fii ilm.

Beberapa bulan lalu saya lulus di Kelas Matrkulasi Remedial Institut Ibu Profesional 😍😍 Jadi sebenarnya postingan ini #latepost banget 😅

Seperti yang pernah saya posting, saat zaman masi kuliah, saya membaca satu artikel di grup whatsapp, tentang seorang wanita keren bernama Ibu Septi Peni Wulandari. Ini adalah awal saya mengenal komunitas ibu profesional.

Ibu keren inilah penggagas komunitas ibu profesional.

Sejak itu saya sering mengikuti kiprah beliau di sosial media. Mulai stalking-stalking dan sebagainya.

Ibu Septi dan Pak Dodik (suami beliau) mendidik sendiri ketiga buah hatinya alias homeschooling. Tinggal ketik di google nama Bu Septi, InsyaAllah banyak banget yang sudah membahas tentang beliau

Pelajaran penting bagi saya saat ini, sebagai singlelillah, sebelum menikah pastikan visi misi tujuan suami dan istri sama. Siap untuk meyamakan. Siap untuk selalu belajar, belajar, dan belajar.

Di kelas matrikulasi saya belajar banget. Ga hanya sekedar biodata yang harus ditukar dengan calon suami, bahkan proposal hidup ke depan dan berbagi luka masa lalu juga.

Sepele namun tidak bisa diremehkan.

Bahkan ada tugas di kelas matrikulasi, harus buat surat untuk calon suami (bagi yang single) dan untuk suami (bagi yang sudah menikah). 😳
Buatnya sambil nyengir, ketawa dan malu sendiri 😅 tapi di hati mah berdoa terus.

Semoga langkah saya mengikuti komunitas ini, Allah berkahi semua-mua-muanya. Dan bisa memberikan manfaat minimal untuk saya, (calon)suami saya nanti, dan (semoga) anak-anak saya nanti.

Tiada daya dan upaya melainkan kehendakMu, Ya Allah.

Aliran Rasa

Bismillahirrahmanirrahim~

Siapa disini pernah dengar tentang IIP? Ayo cung 👆

Sudah lama sekali saya mendengar tentang IIP. Institut Ibu Profesional. Wohoo 😍 Keren kan.

Ibu Profesional.

Ibu dan profesional. Dua kata yang dulu, tidak saya sangka, bisa disatukan.

Pertama kali mendengar tentang founder IIP, Bunda Septi Peni Wulandari, adalah dari broadcast di grup whatsapp. Tahun 2012 atau 2013. Tentang beliau yang mempunyai 3 anak home schooling dan semuanya hebat. Tentang beliau memilih berhenti bekerja sebagai PNS dan mengabdikan diri sebagai Ibu yang profesional. Sebuah posisi yg kepikiranpun ga, untuk dilakukan secara profesional (oleh saya).

Pencarian di dunia maya pun dimulai, dan saya memutuskan mendaftar di web iip, namun qodarullah komitmen sekolah online itu benar-benar sesuatu :mrgreen: dan akhirnya malah akun iip saya jarang saya buka.

Sampai akhirnya ada program matrikulasi yang akhirnya saya ikuti. Program Matrikulasi Bacth 2. Tahun 2016 lalu. Dan…… Saya gagal. Sekolah online itu benar-benar butuh komitmen. Dan matrikulasi ini adalah sekolah online saya yang kesekian, 😁 yang juga gagal.🙏

Alhamdulillah, masih diberikan kesempatan untuk mengikuti remidi. Dannnnn akhirnya saya bisa jg mengerjakan semua tugasnya 😂 setelah gagal sebelumnya.

Maksimal? Beluuummm!

Tapi saya bersyukur. Saya sangat beruntung bisa bergabung di IIP. Walau masih singlelillah, namun banyak sekali ilmu dan hikmah yang saya dapat dengan bergabung di IIP ini. 😁😍

Insyaallah akan menjadi modal penting saya dalam menapaki dunia pernikahan kelak. 😉

Kesempatan Kedua

Kesempatan kedua mengikuti kelas matrikulasi IIP ini sungguh sesuatu.

Saat awal masuk kelas matrikulasi, jujur, saya sangat tidak pede. Apalah saya masih singlelillah dan tidak punya pengalaman tentang dunia menjadi istri dan ibu 😂

Di grup matrikulasi 2, saya bahkan tidak muncul sama sekali dalam obrolan grup. Kenapa? Maluuuuu. Hhehehehe. Semua ngobrolin tentang anak, suami begini, anak begitu, perkembangan a,b,c,d. Saya tidak sanggup nimbrung karena malu mau nyautinnya gimana 😂

Dan malu itu berefek, saya jadi belajar banyak hal tentang pernikahan, rumah tangga, dunia suami istri dan anak. Juga tugas saya yg akhirnya tidak saya kerjakan 😂 /inialasanajapadahalmemanggakomitnen/

Alhamdulillah saya masuk di grup remidial, dan disini saya merasa harus berubah. Harus. Kan mau jadi Ibu Profesional?

Sesekali setor emoticon di grup. Daftar absen dan perkenalan diri. Hhehehe. Sampai akhirnya saya bisa ikutan diskusi sama bunda-bunda yang lain. Sesuatuuu.

Tugas dibela-belain kerjain. Pokoknya gimana biar saya bisa lulus program matrikulasi ini.

Saya bahkan bisa bertanya langsung dengan Bunda Septi Peni saat kulwap dan dijawab langsung oleh beliau. Saya merasa terharu sangat 😭😭

Di IIP ini saya belajar pentingnya komitmen atas tujuan. Mungkin dulu saya ga lulus karena saya tidak bisa berkomitmen dengan tujuan menjadi ibu profesional. Karena merasa masih singlelillah. Merasa ‘kamu tuh belum waktunya kalii im’.

Di grup remidial IIP ini saya merasa, bahwa saya beruntung. Iya saya beruntung. Karena saya masih bisa fokus mencari potensi saya dengan maksimal. Belum terbebani dengan mencari potensi keluarga, anak, dan suami seperti bunda-bunda yang lain.

Saya belajar pentingnya manajemen diri dan keluarga. Bagaimana menjadikan diri dan keluarga mengeluarkan potensinya.

Saya belajar banyak hal tentang dunia pernikahan, rumah tangga, parenting islami, dunia anak, dari bunda-bunda di grup. Saya bisa mengambil banyak pelajaran dari sini. 

Terima kasih. Sungguh terima kasih.

Jazakumullah khairan Bunda Septi Peni Wulandari, para fasilitator, juga bunda-bunda anggota grup matrikulasi Batch2 dan Remedial Batch2.💜😘❤

Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat 🙆

Semoga saya bisa menemukan potensi dirinya dengan baik 🙏 Mohon doakan 🙏

Pengingat Kematian

Minggu ini Allah mengingatkanku kembali akan kematian. 
-Setiap yang bernyawa pasti akan mati-
Pasti.
Kematian tidak menunggu tua.
Dalam satu minggu ini dua orang yang kukenal, yang secara usia masih muda, meninggalkan dunia ini lebih dulu dariku. Tanpa tanda-tanda. Tanpa disangka. Tanpa kode apapun.
Membuatku bertanya pada diriku sendiri, apa yang sudah kusiapkan untuk menyambut kematian itu? Apa kabar dosa-dosa yang sepertinya ditimbun terus menerus? Apa kabar amal-amal? Apakah yakin amal-amal itu diterima? Tabungan akhirat? Amal jariyah atau dosa jariyah? Taubat? Kebermanfaatan pada sesama? Kubur? Bisa khusnul khotimah ga? Trus persiapannya? Siapa kelak yang akan memandikan jenazahku? Mengafani tubuhku? Adakah yang ikut mensholatkan jenazahku? Adakah yang mengantarkanku sampai ‘rumah’ terakhirku? Dan bertubi-tubi pertanyaan datang seketika. Pertanyaan tentang aku dan kematianku kelak.
Ah, rasanya tak habis kata membicarakan soal kematian. Sungguh benar, bahwa sebaik-baik nasihat adalah kematian.
Mohon maaf atas segala kata, komentar, cuitan, posting, like dan status dalam dunia maya, juga kata, tingkah dan perbuatan dalam dunia nyata 🙏🙏  Mohon maaf sebesar-besarnya. 
Jika ada yang merasa pernah saya hutangi, janji, urusan atau amanah yang belum selesai, atau belum tertunaikan, mohon dengan sangat untuk menghubungi saya sesegera mungkin. Sekecil apapun itu. Berharap agar urusan-urasan ini tidak membuat kita saling menyusahkan kelak di hari akhir 🙏🙏
Karena sungguh aku tidak tahu yang menulis atau yang membaca status ini yang akan lebih dulu Allah hadirkan kematian.🙏
Terima kasih. Jazakumullah khairan katsir.

Semoga Allah melapangkan kuburmu, mengampuni dosamu, dan menempatkanmu dalam Jannah Nya, Almarhumah Kak Rayung dan Almarhum Joe. Innalillahi wainna ilaihi raji’un, Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.

Diambil dari fb Almarhum Kak Rayung, oleh Adik Kak Rayung, Dian.

Munas Peduli Jilbab 2016 #2016PunyaCerita

Assalamualaykum warahmatullahi wa barakatuh.

Woke~

Waktunya nulis dengan serius #halah:oops:

Yang masih memorable diingatan saya tentang tahun 2016 adalah kehadiran saya di Musyawarah Nasional Komunitas Peduli Jilbab 2016 yang tahun ini diadakan di kota Bekasi.

Btw, munas Peduli Jilbab ini selalu dan selalu  memorable bagi saya. Selalu. Tahun 2016 adalah kali ke 4 saya bisa menghadiri munas, mewakili diri sendiri dan regional saya tercinta, Bali.

Kok semangat banget sih im dateng ke munas? Iya dongs harus semangat! 🙆

Karena semangat itu naik turun, karena ukhuwah itu perlu diperjuangkan, karena ‘baterai’ku perlu di ‘charge’ dalam bentuk yang berbeda #asek Karena amanah itu dipertanggung jawabkan 😥 #ntms #jadicurhat

Semoga kapan-kapan tergerak hari menulis kisah menuju dan tentang munas di tahun-tahun sebelumnya. 😄 #semogaa

Jadi sebelum cerita bagaimana dan detail acaranya, maka hal yang harus saya urus adalah… Izin.

Iya izin berangkat munas dari orang tua. Dan cuti mengajar. 😄

Izin dengan orang tua tentu harus diurus, dalam hal meyakinkan, bahwa anak gadisnya ini akan pergi dan kembali dalam keadaan baik-baik saja. Bagi saya minta izin bukan sekedar “Ma, Pa, iim mau ikut munas ke Jakarta.” Selesai.

Doa, dan diobrolkan dalam berbagai suasana dan keadaan, meyakinkan bahwa tidak akan ada masalah yang timbul dengan kepergian saya. Tidak hanya sekali.

Karena orang tua, mama khususnya termasuk orang tua yang ‘protektif’ pada anak gadisnya ini. Mungkin itu adalah wujud cinta mereka. Hhehhe.

Bahkan sampai mau berangkat mama selalu nyeletuk, “Mba im, beneran gapapa yaa? Hati-hati lho nanti.” Tidak hanya sekali 😂

Apalagi pas munas pertama, kegawatan mama lebih keren lagi. Hehehehe 

Ma, kelak ketika nanti aku (ditakdirkan Allah untuk) menikah dan tinggal jauh darimu, pasti aku akan merindukan semua itu yaa 😚

Untuk cuti Alhamdulillah sudah di acc dari 2 bulan sebelumnya. Tapi masalah belum selesai.

Karena murid-murid saya yang sholih dan sholihah, tidak bisa ditinggal begitu saja. Maka, sudah ‘disounding’ dari jauh-jauh hari :mrgreen: “Anak-anak ustadzah Iim mau pergi sebentar. Nanti tidak ketemu ustadah 5 kali yaa. Nanti selama ustadzah Iim tidak ada, tahfidznya dengan Ustadzah Nurul.” Kira-kira selama satu minggu sebelum berangkat saya selalu memberi pengumuman demikian pada murid-murid saya.

Cara ini, saya dapat dari berbagai artikel parenting yang pernah saya baca 🙂 Dan terbukti, anak-anak saya tidak rewel selama ditinggal. Alhamdulillah wa barakallahu fiikum.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑