Alhamdulillahirobbil A’lamin..
Segala puji bagi Allah yang sudah menyampaikan saya kembali ke rumah πŸ™‚

Bis ekonomi, siapa yang tak tahu? πŸ™‚ Mass transportation masyarakat kita tercinta.

Saya sendiri pernah beberapa kali menggunakan bis ekonomi, tidak sering, karena di Denpasar bis ekonomi hanya utk yg AKDP – Antar Kota dalam Provinsi-. Misal mau ke Tabanan, Singaraja, Jembrana, dan kota-kota di Bali lainnya.
Kalau bis AKAP – Antar Kota Antar Provinsi- pernah naik di kampung halaman orang tua, dari Surabaya-Maospati, naik bis Mira, Sumber Kencono Sugeng Rahayu , dan Eka. Jurusan Surabaya-Jogja/Solo tapi yang mampir Madiun, dan turun di Maospati.

Tapi tapi, Bis Ekonomi yang saya dan teman saya, Dian naiki kali ini beda. ^_^ Bis Ekonomi Malam Jurusan Jember-Denpasar. πŸ˜€

Sebelumnya saya sudah posting di postingan sebelum ini, bahwa jika kereta Logawa telat maka plan lain yang akan jalan. :’)

Dan……

Keretanya telat sodara, sodara 😦

Saat sampai di Stasiun Gubeng Surabaya, ada mba2 baik yang bilang, bahwa kereta ini sudah sangat terlambat sampai Surabaya, dan kemungkinan sampai Jember akan lebih terlambat lagi. *cry*

Kami masih berpikir positif, pak masinis akan mempercepat kereta api Logawa sampai ke Jember. Tapi… Saat jam sudah menunjukkan pukul 19.00 dan kereta masih entah di stasiun mana…. Eng ing eng.. Mulai deh hati was was. Apalagi penghuni kereta makin menipis 😦 Akhirnya jam 19.15 kami menanyakan sama bapak-bapak petugas dan tentara yang berada di kereta. Jam berapa sampai Jember.

Dan~ Bapaknya bilang.. Masih lama 😦 *cry* akhirnya kami pun bilang kalau kami mau mengejar kereta Tawang Alun untuk lanjut ke Stasiun Banyuwangi Baru. Dan tanpa rasa berdosa si bapak bilang pada kami, bahwa Kereta Tawang Alun sudah di depan Kereta Logawa dan ga mungkin kekejar 😦 *pengen garuk tembok*

Setelah ngobrol lebih lanjut dengan bapak-bapak petugas baik hati akhirnya kami bilang ngaku kalau kami mau ke Bali dan hanya tau yang via stasiun Banyuwangi Baru. *tampang polos. Kalau naik bis ga ada pikiran. Apalagi tampang kami bukan tampang bolang apalagi backpacker profesional 😦

Bapak-bapak pun menyarankan kami turun di Stasiun Rambipuji Jember dan naik becak sampai terminal terus bisa deh naik bis via terminal. Eh Alhamdulillah, ternyata ada rombongan kakek2 yang jg mau ke Bali. Terus sama bapak-bapak petugas kami dititipin deh #eaaa πŸ™‚

Setelah perkenalan singkat tanpa mengenalkan nama *lho* Hanya tujuan dan bagaimana cara ke Denpasar, akhirnya keputusan diambil, kami berdua ngikut kakek2 itu. Ternyata ada sepasang bapak-ibu dan seorang bapak paruh baya yang jg mau ke banyuwangi. Rasanya pengen nangis haru, Allah memberikan orang-orang baik untuk menuntun kami pulang :’)

Dengan bismillah plus deg-degan kami turun di Stasiun Rambipuji dengan pesan agar berhati-hati dari bapak-bapak petugas kereta. Jazakumullahu khairan katsiran bapak, Semoga Allah membalas kebaikan kalian lebih baik lagi. πŸ™‚

Kami turun di Rambipuji ditengah hujan. Lebih deras dari gerimis walau juga tidak sampai badai. Kelompok kecil yang turun di Stasiun akhirnya ramai-ramai mencarter becak *ceileh bahasanya :p* menuju Terminal Rambipuji. Didapat kesepakatan harga 10.000 per becak.

Berdua bersama Dian ditengah hujan tengah malam naik becak motor bersama koper dan ransel. Sesuatu πŸ˜€ Belum lagi setiap ada lubang atau truk/bis menyalip becak yang kami tumpangi, kami menahan jeritan ngeri. Terutama saya, karena yang duduk dikursi becak itu saya yang sambil menggendong ransel πŸ˜€ jadi rasanya mau jatuh ke depan setiap becak direm. Hhehe.

5 menit berjalan, becak berhenti. Ternyata kami tidak turun di terminal. Tapi di seberang terminal. Tak berapa lama menunggu, ada bis datang. Dan~ kakek2 pada naik. Refleks kami mengikuti….

Dan~

Tetiba ada rasa sesal. Kenapa?
Karena sebagian besar penumpang bis MEROKOK. Satu hal yang sangat saya tidak suka, apalagi dilakukan di fasilitas umum. 😦

Pengen turun, tapi ini sudah tengah malam, belum tentu ada bis lagi yang menuju Bali atau Banyuwangi 😦 Akhirnya kami pun memilih duduk.

Oiya, bis ini kursinya 3-2 tanpa pegangan dan AC. Hanya jendela.

Menghirup udara  penuh asap rokok itu bener-bener sesuatu 😦 Depan, samping kanan, dan belakang saya semua merokok. Asap nya dimana mana. Alhamdulillah di samping kiri ada Dian yang duduk di samping jendela.

Yang bikin saya merasa miris adalah tak jauh dari kursi kami ada bayi kira-kira berumur 5bulan 😦 Sekecil itu sudah menjadi perokok pasif karena lingkungannya 😦 Sedihhh

Saya dan Dian memakai masker selama perjalanan. Walau maskernya masker unyu-unyu gambar keroppi. Cukup membantu ditengah kepulan asap rokok walau masih tetap ada yang lolos dan kami hirup.

Kesal dan sebal pada perokok di bis itu. Tapi juga agak-agak khawatir. Karena tampang penumpang beberapa ada yang garang. Dan dibagian belakang bis, ada mba2 cantik yang lagi digodain oleh entah siapa, yang suaranya kedengaran sampai kursi saya 😦 Banyak-banyaklah kami berdua dzikir dan baca ayat kursi. Pasrah. Cukuplah Allah sebagai pelindung dan penolong kami. Agak lebay sih πŸ™‚ Tapi tetap waspada itu perlu.

Begitu kesalnya saya sampai terpikir ide usil. Saya adalah pemakai setia minyak kapak dan selalu membawanya terutama dalam perjalanan jauh. Dan~ dengan usilnya saya sengaja menumpahkan sebanyak mungkin minyak kapak keatas tissue :p Mendingan bau minyak kapak dari pada bau asap rokok :p Tentu saja gara-gara itu saya jadi dilihatin. Mungkin mereka merasa iba karena mengira saya mabuk perjalanan :p

Alhamdulillah setelah bis berjalan, rokok-rokok itu mulai habis. Dan mungkin karena sudah melewati tengah malam, para penumpang yang merokok sudah mulai lelah mengantuk :p

Sebenarnya posisi duduk saya tidak nyaman. Di depan bawah ada kopernya Dian, di atasnya ada ransel saya. Kaki saya ada di lorong bis. Jadi setiap ada orang lewat, pasti nyenggol kaki saya :p Tapi karena sudah lelah dan stress, yaa bablas tidur wae πŸ˜€

Btw lorong bis penuh sama barang2 penumpang. Ada juga kaki-kaki yang bergelimpangan macam kaki saya :p

Yang seru adalah saat bisnya belok di tikungan. Biar dikata ngantuk, tapi rasa waspada lebih besar agar ga sampai jatuh dari kursi *grin* Padahal jurusan Jember-Bali melewati Gunung Kumitir yang tikungannya aduhai sekali πŸ˜€ Belum lagi Gilimanuk-Denpasar yang juga cukup banyak tikungannya. Hhihi. Entah bagaimana saya bisa tidur saat itu :p

Alhamdulillah sampai Terminal Ubung Denpasar jam 6.00 dan masih sempet-sempetnya rempong masalah jemput dan ngojek bareng Dian πŸ˜€

Maha Besar Allah yang menjadikan ini semua menjadi pengalaman yang berharga bagi saya πŸ™‚

Iklan