Bismillahirramanirrahim..

-Hanya sedikit galau hati yang berusaha ditumpahkan dalam tulisan-

Akhir-akhir ini, dimedia cukup banyak kabar tentang kematian. Meninggalnya public figure dan tokoh masyarakat. Tapi tidak hanya di media. Ternyata disekeliling pun, beberapa kenalan sudah dipanggil lebih dulu menghadap Sang Pencipta.

Wahai iim, diriku, pernahkah kau bertanya, kapan? Kapan kematian menjemputmu, im? Ah, sejatinya diri ini dan semua manusia, semua sedang mengantri. Mengantri menuju kematian. Mengantri menuju Sang Pemilik Dunia. Sayangnya kau, aku, kita tidak tahu, nomor antrian yang keberapa. Apakah pintu kematian itu sudah dekat, atau masih jauh. Hanya Sang Maha Pencipta yang mengetahui.

Dan~ tidak ingatkah dirimu wahai diri, oleh untaian kata doa yang selalu diucapkan jika seorang hamba kembali kepada pemiliknya. “Semoga amal ibadahnya diterima”. “Semoga diterima di sisi Nya”

Entah kenapa baru kau sadari, kalimat-kalimat sederhana itu, akhir-akhir ini terasa begitu menampar.

Terbayangkah dirimu, ketika suatu saat, meninggalkan dunia ini, dan kalimat-kalimat itu adalah yang akan diucapkan, diberikan kepadamu, diriku.

Hei, siapa yang tahu amal mu diterima? Siapa yang tahu bahwa nanti kau diterima di sisi Nya?

Saya? Hadeuh, saya mah apa atuh. Cuma makhluk. Kamu? sama aja. Sama-sama makhluk.

Siapa yang tahu? Jelas, Sang Maha Pencipta. Sang Maha Hidup.

Tapi entah kenapa diri yang makhluk ini kenapa, begitu.. apa ya.. bebal, bodoh.. Atau mungkin pura-pura bodoh. Lupa. Pura-pura lupa. Bahwa saat kematian datang menjemput, sungguh hanya amal saja lah yang menemani. Amallah yang akan kita bawa.

Amal yang dilakukan disaat masih bernafas. Amal yang dilakukan disaat masih sehat. Amal yang dilakukan dalam detik-detik yang lewat.

Berapa milyar detik yang terlewat tanpa amal baik? Berapa puluh detik untuk amal baik, yang belum tentu diterima? Berapa ratus, berapa ribu, berapa juta detik terlewat penuh dosa dan kesia-sian?
Yakinlah diri, kau yang tau jawabannya. Seberapa lalai dirimu. Seberapa banyak dosamu. Sekecil apa amalmu.

Dan masihkah engkau wahai diriku, tenggelam dalam kepura-puraan. Terhanyut dalam kelupaan. Pura-pura lupa, bahwa engkau adalah calon mayat? Akhirmu adalah tanah berbungkus kafan. Temanmu dalam tanah adalah cacing-cacing dan belatung. Dan kelak dagingmu akan berurai bersama tanah.

Mau sampai kapan? Mau sampai kapan pura-pura lupa?

Segeralah sadar wahai diriku. Sebelum penyesalan datang dan yang lewat tiada bisa terulang. Sebelum antrian kematian memanggilmu.

Iklan