image

Ini bukan tentang romantisme hujan
Juga bukan tentang  kekhusyuan fajar
Bukan pula heningnya malam
Atau pun manisnya senja

Siang menyengat yang terik
Itulah yang sedang kupikirkan
Siang yang kadang terlihat sebelah mata dimataku

Kesenangan hati..
Ucapan penuh syukur..
Jika gerimis datang mengundang pelangi..
Atau indah semburat langit saat fajar datang..
Atau cantiknya kaki langit jika senja menghampiri..
Atau langit malam bertaburan bintang..

Namun..
Bagaimana jika siang datang..
Panas menyengat meneteskan peluh..
Silau menjangkau memekakkan mata..
Haus melanda..
Mengeringkan..
Seakan pintu neraka terbuka..
Padahal milyaran mil jarak ke sumber cahaya..

Apakah bibirmu juga berucap syukur?
Apakah hatimu juga senang?

Bukankah pakaian basahmu menjadi kering?
Bukankah semangatmu berkegiatan menjulang tinggi?
Bukankah pandangan matamu menjadi indah jelas karena cahaya ada dimanapun?
Bukankah kau jadi mengerti nikmat tetesan air yang terkadang kau siakan?
Bukankah tanaman hijau berbahagia karena sekaranglah waktu mereka memasak?
Bukankah bukankah bukankah…?

Mari mensyukuri nikmat terik ini..
Menikmati panas matahari ini..

Sungguh..
Bukan karena siang yang paling hebat..
Namun fajar, siang, senja, malam..
Masing-masing memiliki bagian yang hebat..
Yang tak perlu kau bandingkan..

Bersyukurlah..
Karena itu semua merupakan nikmat tak terhingga darinya..

Sungguh nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?

Iklan