Entah apa yang salah denganku. Hari ini berjalan buruk sekali. Sangat buruk.

Aku bangun kesiangan, terburu-buru berangkat ke kantor sampai meninggalkan berkas penting, dan  aku dimarahi pak bos, karena akan dipakai untuk rapat penting siang nanti.

Dan sekarang, saat aku terburu-buru kembali ke rumah mengambil berkas yang tertinggal itu, aku tersandung kakiku sendiri di depan kamarku. Ndelosor mencium lantai. Sakit sekali.

“Aduuuh…”

Aku bisa mencium bau kebesi-besian. Aih, aku berdarah.

Sambil berusaha berdiri aku meraba-raba wajahku,mencari-cari si sumber darah. Ternyata dari daguku. Lumayan banyak sepertinya. Sampai bleber kemana-mana.

“Ya ampun, pake berdarah pula ini.”, sungutku sebal.

Sungguh sial aku hari ini.

Sambil menahan nyeri aku menempelkan plester sekenanya didagu. Tak ada waktu untuk lama-lama memikirkan luka ini.

Aku harus cepat-cepat kembali ke kantor. Kalau tidak bisa bahaya. Pak Suhel sedang keluar ‘tanduk’ nya. Nasib gajiku bisa terancam.
—–
“Ini mba Mimi, berkas kita tercinta tersayang. Sudah kubawa dengan selamat.”

Kuberikan amplop berisi berkas pada Mimi, senior sekaligus sahabat kantorku.

“Taruh aja disini, Im.”, tanpa melihatku, Mimi menunjuk meja di sampingnya. Ia sedang sibuk dengan toto, laptopnya.

Setelah meletakkan amplop aku berjalan ke mejaku. Ruangan ini hanya berisi kami berdua, tim divisi kreatif.

“Bau apaan nih? Kok macam darah-darah gini?”, Mimi tiba-tiba mendongak. Hidungnya kembang kempis mengendus-endus udara. Mencari bau yang dicarinya.

“Ehehehe, emang bau banget ya mba?”, sahutku tanpa dosa. Aku sedang membuka jaket yang dari tadi kupakai. Bagian atasnya terkena darahku yang nampaknya belum kering benar.

“Ya ampun, Iim! Habis ngapain lo?!? Itu dagu kenapa? Kenapa darahnya netes-netes? Lo luka? Astagfirullah, ni anak! Kenapa lo ga ke rs? Kenapa malah ke kantor? Nanti kalo darah lo habis gimana? Ntar kalo lo pingsan gimana?”.

Mimi tiba-tiba jadi gawat. Ribut sendiri. Berlari ke arahku dan menarikku ke sofa tengah ruangan. Lalu sibuk sendiri seperti setrikaan. Sedangkan aku terpaksa duduk manis sambil melap sisa-sisa darah yang menempel didagu.

“Lo tadi habis ngapain sih, Im?”, ujarnya dengan nada khawatir. Mimi duduk disamping, tiba-tiba jadi dokter dadakan memeriksaku.

“Jatuh di kamar mba. Ndelosor ke lantai. Ehehe.”, ujarku sambil nyengir menahan perih.

Entah dari mana Mimi mendapatkan kapas beralkohol. Ia sibuk membersihkan lukaku sambil mengomel. Sementara aku hanya memasang wajah tanpa dosa. Pura-pura tidak mendengar. Padahal memang tidak memperhatikan.

“….. Luka didagu kaya gini ngingetin gue sapa dorama apa gitu, yang bikin mewek abis. ” Ucapan Mimi akhirnya ada yang nyangkut di kupingku.

“Dorama? Nangis? Buku Harian Aya?”, tanyaku balik.

“Nah itu dia. Ichi rittoru. Itu kan awalnya lukanya kaya lo, Im.”.

Tiba-tiba mataku dan mata Mimi bertatapan. Seakan-akan kami sedang satu pikiran.

“Jangan… Jangan…”, Mimi dan aku bergumam bersama. Jari-jari Mimi terhenti membersihkan lukaku. Berpandangan sepersekian detik.

Kemudian kami berdua terbahak bersama.

“Wkwkwkwkwk…”

“Lu pasti lagi mikirin hal yang sama kek gue. Ya kan?”, sembur Mimi. Tampangnya geli-geli gimana gitu. Walau begitu tangannya masih cekatan membersihkan luka di daguku.

“Penyakitnya si Aya!”, ujar kami berbarengan.  Aku dan Mimi memang mirip, terutama dalam keabsurdan dan khayal-mengkhayal.

“Apa ya nama penyakit si Aya?”. Mimi terlihat berpikir, sambil mengaduk-aduk kotak obat yang entah kapan dan dari mana sudah ada ditangannya.

“Penyakit itulah pokoke. Panjang dan susah bener.”, jawabku sekenanya.

“Naudzubillah deh lo kena penyakit kek gitu, Im.” Sahut Mimi sambil menempelkan plester di daguku.

“Tapi ada yang aku mau banget mirip si Aya.” Gumamku. “Aku mau tulisanku terkenal trus menginspirasi banyak orang. Kan keren banget tuh.” Ah, itu tentu harapan semua yang hobi menulis. Tulisan yang bisa menginspirasi.

“Awwwawawwwa, sakit mba.” TIba-tiba Mimi memencet daguku yang baru di bersihkannya

“Ini anak dikhawatirin malah ngimpi. Selesaiin dulu gih si Bude!”, seru Mimi sebal.

“Iyeee.”, setengah merasa bersalah aku menjawab.

“Eh btw yang bawa si Bude, mba kan?”, tanyaku polos sambil mengelus daguku yang baru dipencet Mimi.

—–

Mendengar pertanyaan Iim, aku yang pikunan ini sontak kaget. “Astaghfirulloh!”

“Ada apa, Mbak?” Iim ikut panik.

“Bude kecelakaan! Maaf banget, Im. Ini semua gara-gara gue. Huwaaang~” Panik bercampur sedih jadi satu.

“Kecelakaan gimana maksudnya?” Iim pasang tampang polos, antara linglung dan miris melihat kelakuanku yang aneh.

“Di kereta.. tadi pagi.. ada ibu hamil.. jatuh dari pangkuan gue..” Urutan kata-kataku mulai nggak jelas. Iim makin linglung. “Maksud gue, tadi pagi pas berangkat ke kantor, Bude gue bawa dan gue taruh di pangkuan gue. Terus ada ibu-ibu hamil, gue berdiri dan lupa lagi mangku Si Bude. Lalu, nampaknya dia jatuh di kereta.”

Bude adalah buku mimpi kami. Dream Book, disingkat paksa menjadi Bude. Aku dan Iim adalah pencetus sekaligus penulisnya. Karena kadang tukar-menukar buku harian, kenapa tidak sekalian bikin buku bareng? Walaupun isinya antara curhat dan khayalan tingkat tinggi kami.

“Ooh. Ya ampun, iya sih itu bisa dibilang kecelakaan yah. Eh, tapi gue yakin Bude bakal balik lagi deh, Mbak. Entahlah, firasat aja sih.”

Lima detik kemudian, HPku berdering. Telihat di layar nomor orang tak dikenal. Aku beranjak ke dapur umum sambil menarik ujung kemeja Iim.

“Halo! Selamat siang. Ini Mimi atau Iim?” Terdengar suara berat seorang pria di seberang sana.

“Siang. Saya Mimi. Siapa ya?”

“Saya menemukan buku kalian di kereta tadi pagi. Sepertinya penting. Mau saya antarkan?” Sopan sekali tutur katanya, luar bias pula niat baiknya. Jarang-jarang ada pria begini, apalagi kalau ditambah tampang keren, rajin, sholeh dan berbakti pada orangtua. Khayalanku mulai mengawang-awang.

“Mbak Mimi? Halo, Mbak? Gimana, mau diantarkan?”

“Oh, ya boleh Mas. Alamatnya..”

“Alamat kantor Mbak ada di buku ini kan? Gedung BRI 2, Benhil? Deket dari tempat saya.”

“Oh, iya benar, Mas.”

“Oke, nanti jam 7 malam ketemu di bawah jembatan busway depang BRI 2 ya. Sampai nanti.”

Klik.

Aku memegang kedua bahu Iim, menatap matanya, lalu berkata, “Im, Bude selamat! Tadi yang nemuin nelpon gue. Mau nganter malam ini, jam 7. Kita mesti ketemu sama tu cowok!”

“Bentar, bentar. Cowok siapa? Malam ini?”

“Cowok yang tadi nelpon gue. Lo inget kan? Kita nulis alamat dan nomor HP. Nah, tu cowok pasti tau dari situ..”

“Dan itu berarti cowok itu baca tulisan kita di Bude!” Selak Iim yang membuatku hampir tersedak air liur sendiri.

“OH NO!” Tampangku saat itu mungkin bagai orang kena tipes ditambah dehidrasi akut plus anemia jadi satu. Komplit. “Terus gimana dong, Im?”

“Menurut Mbak Mimi dari suaranya cowok itu kayak gimana?” Iim pasang tampang ‘kepo’ serius.

“Suara berat, tegas, tulus, memanipulasi, memonopoli, ‘seme’.. Eh, koq jadi ke situ?” Jawabanku tidak fokus.

“Mbak, plis deh jangan random dulu. Fokus, Mbak. Fokus! Inget Salman dan suami di rumah.”

“Baik sih kayaknya. Buktinya mau balikin Si BUDE. Pokoknya nanti kita ketemu aja dulu, Im. Btw, dagu lo belum selesai gue perban.”

Pukul 7 kurang 15 menit, aku dan Iim keluar kantor menuju halte busway. Jalan Sudirman seperti biasa macet, apalagi di area persimpangan Semanggi ini. Ada banyak juga pegawai kantoran yang bersepeda pulang pergi dan parkir di area halte busway Bendungan Hilir.

Aku dan Iim berjalan cukup cepat, takut terlambat bertemu cowok itu. Kami hampir saja telat, terhambat ketika mau turun dari lantai 21. Lift selalu penuh. Keluar dari BRI 2, kami sudah mulai berlari. Iim yang kurang konsentrasi menabrak 5 deret sepeda yang berjejer di dekat halte. Dagunya yang diperban kena pedal sepeda dan lututnya lecet mencium ‘paving block’. Sepeda yang parkir jatuh semua. Orang-orang di sekitar kami hanya bengong, melihat Iim jatuh, kecuali satu orang.

“Mbak, nggak apa-apa?” Pria itu bertanya sembari membantu membereskan sepeda.

Aku membantu Iim berdiri, “Ya Allah, Iim! Lo kenapa bisa nabrak sepedaaa?”

“Nggak ngeliat, Mbak Miii!” Iim menyeka dagunya yang berdarah lagi dan terpaku di depan pria yang tadi membantunya, “Ma.. Makasih, Mas.”

“Ini saya ada plester, Mbak.”

Aku berani sumpah, pria ini pernah kulihat entah di mana. Siapa yah? Tak asing. Duh, pikun hilanglah!

“Oh, iya. Mbak Iim ya namanya? Yang ini Mbak Mimi?”

“Lho kok, Mas tau?” Aku heran.

“Saya yang mau mengembalikan buku kalian. Ini bukunya.” Pria itu mengeluarkan Bude dari tas punggungnya.

“Ya ampun, makasih banyak ya, Mas. Kami bingung harus balas budi pakai apa..”

“Nggak usah bilang soal balas budi. Saya nggak pernah berharap itu. Oke, bukunya dijaga baik-baik ya. Jangan ceroboh lagi.” Ternyata ucapan pria itu ada pedasnya juga.

“Oh, iya. Sekali lagi makasih ya.” Aku mencolek Iim, memberi kode supaya dia juga berterima kasih.

Pria itu pergi menjauh. Iim masih terpaku. Setelah beberapa saat, Iim kembali ke dunia dan mulai berbicara, “Mbak, sadar nggak tadi siapa?”

“Oh iya! Gue nggak nanya namanya. Aduh, sayang banget ya, Im. Kali aja dia bisa jadi jodoh lo. Lumayan juga tampangnya, kayak nggak asing. Pernah liat di mana ya..”

“Mbak Miii! Kita baru aja ketemu Asou-kun! Sumpah, dia mirip banget sama Nishikido Ryo. Mana tadi ada adegan gue nabrak sepeda! Ya ampun. Apa yang terjadi padaku, ya Allah” Iim menatap langit dengan mata nanar.

“Ya ampun, baru sadar gue! Pantesan kayak kenal. Eh, iya Im. Lo izin besok, cek ke dokter aja. Mudah-mudahan nggak ada apa-apa.”

Hari ini berakhir dengan penuh drama yang tak terlupakan.

—–

Rasa gemetar ini belum hilang juga. Hari ini sungguh sesuatu sekali.

Aku mengingat-ingat kejadian hari ini. Untungnya tidak ada marah-marah tambahan dari Pak Suhail. Mungkin karena luka cantikku ini. Sepertinya malah dia setengah merasa bersalah.

Begitu sampai rumah tadi, aku langsung menelpon CIci, temanku yang seorang dokter. Berjanji untuk tidak hanya sekedar periksa, tapi juga check up.

“Check up gara-gara jatoh?”. Aku masih ingat nada suara CIci. Seakan-akan bilang, ‘hello iim, cuman gara-gara jatuh aja, lo lebay banget sih.. Kebanyakan duit ya mba?’

Tapi rasa khawatir tidak mau hilang juga. Entah ini karena terlalu menghayati drama Aya sampai tersugesti atau… Memang aku yang terlalu lebay?

Aku memandangi BUDE di tanganku.  Hari ini jatahku untuk menulisnya. Besok harus sudah kembali ke Mimi.

Panggilan kasur sungguh menggoda untuk dituruti. Apalagi rama hari ini sungguh melelahkan.

Tapi akhirnya, kubuka lembaran Bude paling belakang dan mulai menulis.

—–

Jam makan siang. Hpku bordering. Iim menelpon.

“Gimana hasil cek ke dokter, Im? Positif?” Pertanyaanku semacam tes kehamilan saja.

“Mbak, lo nggak bakal percaya apa yang gue temuin. Serius, gue merinding!”

“Im, lo nggak kena penyakit Aya kan?”

“Nggaaaak! Cowok yang semalem itu nulis sesuatu di Bude!!!”

“Apaaaah!? Dia komentar yang nggak-nggak ya?”

“Gue ketik dan kirim lewat WA aja yah.”

-Dear Mimi dan Iim,
Saya kagum dengan kalian. Buku ini benar-benar ajaib. Halaman demi halaman saya baca tanpa jeda, dan setiap halaman selalu membuat saya menitikkan air mata. Ya, air mata tawa. Kisah kalian di kantor, keluarga, atasan yang hobi ngupil, khayalan, mimpi-mimpi kalian, semuanya luar biasa. Teruslah menulis dan terbitkanlah buku. Saya akan jadi salah satu pembelinya.

PS: Jangan sampai jatuh lagi di kereta, ya!

A.S-

Mulutku menganga. Belum kering air liur di dalamnya, Iim menelpon lagi.

“Mbak Mimiii! Barusan ibunya Kang Asep nelpon.”

“Siapa lagi itu Kang Asep, Im? Kok lo jadi random? Yang random kan gue!”

“Kang Asep meninggal kecelakaan kemaren jam 7 malem! Kang Asep itu yang nulis di Bude, Mbaaak. Ibunya nemuin catatan kecil di saku bajunya Kang Asep, isinya nomer HP kita. Barusan ibunya nelpon untuk ngabarin, kalau Kang Asep punya hutang, tagih ke ibunya aja atau minta diikhlasin.”

Dan aku bisa merasakan tubuhku merinding.

Iim dan Mimi

09 Oktober 2015  #TantanganDuetRuruNana

——

Ini adalah tulisan duet pertamaku dan syukur Alhamdulillah bisa dptin hadiah dari Ruru dan Nana 💜 *peluk ciyum mereka* 😘

Kalau inget buatnya ini mah sesuatu sekali~

Diskus sama mba Mimi masalah tema yang seru bgt, dan dikejer detlen sampai tengah malam 😂

Mba Mimi yang ngetik sambil nungguin Salman bobok 😂

Belum lagi, bye-bye lah sama EYD *digeplak Ruru* trus typo dimana-mana.😂

Makasih banget buat Ruru dan Nana yang sudah bikin tantangan keceh kaya gini! 😘 *ketagihan*

Iklan