Assalamualaykum warahmatullahi wa barakatuh.

Woke~

Waktunya nulis dengan serius #halah:oops:

Yang masih memorable diingatan saya tentang tahun 2016 adalah kehadiran saya di Musyawarah Nasional Komunitas Peduli Jilbab 2016 yang tahun ini diadakan di kota Bekasi.

Btw, munas Peduli Jilbab ini selalu dan selalu  memorable bagi saya. Selalu. Tahun 2016 adalah kali ke 4 saya bisa menghadiri munas, mewakili diri sendiri dan regional saya tercinta, Bali.

Kok semangat banget sih im dateng ke munas? Iya dongs harus semangat! 🙆

Karena semangat itu naik turun, karena ukhuwah itu perlu diperjuangkan, karena ‘baterai’ku perlu di ‘charge’ dalam bentuk yang berbeda #asek Karena amanah itu dipertanggung jawabkan 😥 #ntms #jadicurhat

Semoga kapan-kapan tergerak hari menulis kisah menuju dan tentang munas di tahun-tahun sebelumnya. 😄 #semogaa

Jadi sebelum cerita bagaimana dan detail acaranya, maka hal yang harus saya urus adalah… Izin.

Iya izin berangkat munas dari orang tua. Dan cuti mengajar. 😄

Izin dengan orang tua tentu harus diurus, dalam hal meyakinkan, bahwa anak gadisnya ini akan pergi dan kembali dalam keadaan baik-baik saja. Bagi saya minta izin bukan sekedar “Ma, Pa, iim mau ikut munas ke Jakarta.” Selesai.

Doa, dan diobrolkan dalam berbagai suasana dan keadaan, meyakinkan bahwa tidak akan ada masalah yang timbul dengan kepergian saya. Tidak hanya sekali.

Karena orang tua, mama khususnya termasuk orang tua yang ‘protektif’ pada anak gadisnya ini. Mungkin itu adalah wujud cinta mereka. Hhehhe.

Bahkan sampai mau berangkat mama selalu nyeletuk, “Mba im, beneran gapapa yaa? Hati-hati lho nanti.” Tidak hanya sekali 😂

Apalagi pas munas pertama, kegawatan mama lebih keren lagi. Hehehehe 

Ma, kelak ketika nanti aku (ditakdirkan Allah untuk) menikah dan tinggal jauh darimu, pasti aku akan merindukan semua itu yaa 😚

Untuk cuti Alhamdulillah sudah di acc dari 2 bulan sebelumnya. Tapi masalah belum selesai.

Karena murid-murid saya yang sholih dan sholihah, tidak bisa ditinggal begitu saja. Maka, sudah ‘disounding’ dari jauh-jauh hari :mrgreen: “Anak-anak ustadzah Iim mau pergi sebentar. Nanti tidak ketemu ustadah 5 kali yaa. Nanti selama ustadzah Iim tidak ada, tahfidznya dengan Ustadzah Nurul.” Kira-kira selama satu minggu sebelum berangkat saya selalu memberi pengumuman demikian pada murid-murid saya.

Cara ini, saya dapat dari berbagai artikel parenting yang pernah saya baca 🙂 Dan terbukti, anak-anak saya tidak rewel selama ditinggal. Alhamdulillah wa barakallahu fiikum.

Iklan