Minggu ini Allah mengingatkanku kembali akan kematian. 
-Setiap yang bernyawa pasti akan mati-
Pasti.
Kematian tidak menunggu tua.
Dalam satu minggu ini dua orang yang kukenal, yang secara usia masih muda, meninggalkan dunia ini lebih dulu dariku. Tanpa tanda-tanda. Tanpa disangka. Tanpa kode apapun.
Membuatku bertanya pada diriku sendiri, apa yang sudah kusiapkan untuk menyambut kematian itu? Apa kabar dosa-dosa yang sepertinya ditimbun terus menerus? Apa kabar amal-amal? Apakah yakin amal-amal itu diterima? Tabungan akhirat? Amal jariyah atau dosa jariyah? Taubat? Kebermanfaatan pada sesama? Kubur? Bisa khusnul khotimah ga? Trus persiapannya? Siapa kelak yang akan memandikan jenazahku? Mengafani tubuhku? Adakah yang ikut mensholatkan jenazahku? Adakah yang mengantarkanku sampai ‘rumah’ terakhirku? Dan bertubi-tubi pertanyaan datang seketika. Pertanyaan tentang aku dan kematianku kelak.
Ah, rasanya tak habis kata membicarakan soal kematian. Sungguh benar, bahwa sebaik-baik nasihat adalah kematian.
Mohon maaf atas segala kata, komentar, cuitan, posting, like dan status dalam dunia maya, juga kata, tingkah dan perbuatan dalam dunia nyata 🙏🙏  Mohon maaf sebesar-besarnya. 
Jika ada yang merasa pernah saya hutangi, janji, urusan atau amanah yang belum selesai, atau belum tertunaikan, mohon dengan sangat untuk menghubungi saya sesegera mungkin. Sekecil apapun itu. Berharap agar urusan-urasan ini tidak membuat kita saling menyusahkan kelak di hari akhir 🙏🙏
Karena sungguh aku tidak tahu yang menulis atau yang membaca status ini yang akan lebih dulu Allah hadirkan kematian.🙏
Terima kasih. Jazakumullah khairan katsir.

Semoga Allah melapangkan kuburmu, mengampuni dosamu, dan menempatkanmu dalam Jannah Nya, Almarhumah Kak Rayung dan Almarhum Joe. Innalillahi wainna ilaihi raji’un, Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.

Diambil dari fb Almarhum Kak Rayung, oleh Adik Kak Rayung, Dian.
Iklan