Melatih anak-anak mandiri, ternyata tidak mudah. Seriusan. Itu yang saya tangkap pada curahan hati para mahmud mahmud di WAG Bunda Sayang.
Membiarkan anak memakai baju dan sepatu sendiri, makan sendiri, dan mengerjakan apa apa sendiri.

Tidak sekedar butuh niat dan tekad yang kuat. Tapi juga konsistensi yang berkelanjutan dan yang terpenting, KESABARAN mendampingi. 

Ketika tangan-tangan kecil, berusaha memasukkan sendok penuh makanan ke mulutnya, sedang di sekitarnya berjatuhan remahan-remahan makanan itu. Padahal lantai baru saja dipel. Atau karpet yang dipakai masih baru. Belum lagi mulut yang belepotan. Baju yang tampak awut awutan.

Ketika kaki-kaki kecil berusaha masuk dalam sepatu, padahal emaknya lagi buru-buru. Mana lagi sepatu ketuker tuker.

Ketika mainan terhambur di setiap pojok rumah, padahal mertua mau datang. Sedang si anak, dengan tangan mungilnya memasukkan mainan sambil dimainin ulang.

Emak-emak familiar?

😊😊😊

Inilah kurang lebih tugas game level 2. Melatih kemandirian anak. Berhubung saya belum diberikan amanah berupa suami apalagi anak, tugas yang diberikan pada saya berbeda.

Namun pembelajaran yang saya dapat dalam game ini, luar biasa.

Emak emak keren yang sharing kegiatan bagaimana memandirikan anak. Tabarakallahu. πŸ’œ

Sungguh ibu adalah sosok yang luar biasa.

Tak jarang, harus tega pada anak. Untuk bisa konsisten dalam melatih kemandirian tersebut.

Tentu, menyuapi mereka jauh lebih mudah, tidak menghabiskan banyak waktu, lantai dan karpet tetap bersih.

Tentu, memakaikan mereka sepatu jauh lebih mudah, tidak lama, dan tidak akan tertukar.

Tentu, membereskan mainan anak lebih cepat, tidak memakan banyak waktu.

Namun kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi? Bukankah kelak kita akan meninggalkan mereka? Atau mereka yang akan meninggalkan kita?

😊😊😊

Vidoe diatas dishare dalam sesi diskusi Game Bunda Sayang Level 2, Melatih Kemandirian.

Bagaimana induk burung mengajari anaknya mandiri mencari kerang. Awalnya anak burung takut dan sempet kapok karena kena ombak besar datang. Tapi induk burung tetap tega mendorong si anak menghadapi ombak. Dan akhirnya si anak pun belajar dari keong dan malah mencari cari ombak besar.

Rasa sabar, telaten, konsisten dan tega.

Pastikan porsinya pas. Maka dengan modal kemandirian itu, kelak mereka akan belajar dari yang lain. 😊

Barakallahu fiik untuk ilmu yang InsyaAllah bermanfaat ini.

πŸ’œ

Iklan