“Buku bagaikan pelita ditengah kegelapan.”

Gia yang baru Minggu lalu selesai les membaca, semangat membaca berbagai macam hal disekitarnya.

Seperti barusan, ia membaca keras-keras salah satu sampul bukuku.

“Kak, pelita itu apa?” Gadis 5 tahun itu bertanya padaku dengan penuh antusias.

“Pelita… Hmmm… Apa ya pelita? Kalau kakak tidak salah, pelita itu sumber cahaya, dek”, jawabku sambil mengingat-ingat.

Kening Gia berkerut.

“Cahaya? Apa itu kak?”

Haduh, pertanyaan baru muncul.

“Sinar, dek. Cahaya itu sinar.”

“Berarti pelita tempat keluar sinar gtu kak?”

“Iya. Udah yaa nanyanya. Sekarang Gua bobo dulu, sudah malam. Kakak juga mau bobo.”

Aku ‘mengusir’ Gia sebelum dia bertanya-tanya lebih jauh lagi. Aku sedang malas meladeni nya.

—————-

“Kakak! Kakak!” Gia menerobos masuk ke kamarku.

“Kenapa?”, Tanyaku menatapnya yang datang sambil membawa sesuatu.

“Gia matiin lampu yaa, kak”, tangan mungilnya mematikan saklar lampu kamarku.

Gelap. Hanya cahaya lampu dari ruang tengah yang menyinari setengah kamarku.

“Tadi Gia dikasi ini sama kakek – kakek pemulung.”

Gia mendekati ku dengan sebuah buku.

Buku tua.
.
“Tadi Gia cerita sama kakek – kakek itu, kalau Gia mau cari buku yang bisa ngeluarin sinar. Terus ada, kak”

“Hah?”

Gia membawa buku itu ke hadapanku. Kami saling berhadapan bedengan buku tua dihadapan kami berdua

Dengan tangan mungil Gia, ia membuka buku tua itu.

Sinar keemasan keluar dari lembaran-lembarannya.

“Nah ini kan kak namanya, buku sebagai pelita.”

Gia berkata girang.

Sedang aku mematung melihat sosok gelap di belakang Gia.

#MalamNarasiOWOP
Denpasar, 07-03-2018
Iim

#fiksi #random #latepost

Iklan