Cari

Wopie-chan

catatan random seorang iim

Tag

MuhasabahDiri

Catatan dari Rumah Sakit

Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..

Karena akhir-akhir ini bolak balik beberapa rumah sakit, tetiba ingin menuliskan beberapa hal tentang Rumah Sakit.

Di Denpasar ada cukup banyak Rumah Sakit, baik yang milik Pemerintah maupun Swasta. Dan dalam minggu-minggu ini, RS yang saya kunjungi semuanya RS Pemerintah.

Yah~ Yang bisa saya katakan adalah banyak banget ternyata orang yang sakit. Walau saya tau bahwa masih dan lebih banyakkk lagi yang sehat-sehat.

Sungguh saat-saat mengantri, kadang membuat saya ingin menampar diri saya sendiri..

  • Pertama tentang Maha Baik nya Allah. Betapa Pemurah nya Allah. Betapa Baik nya Allah. Betapa Baik nya Allah. Betapa Baik nya Allah.
    Jika kita kedokter disaat sakit, kita selalu diberikan tagihan pembayaran, baik yang dibayar mandiri, asuransi, maupun pemerintah. Untuk sembuh dari sakit, untuk kembali sehat kita harus membayar. Saya cukup menarik nafas saat dokter bilang biaya operasi saya 30-50jt. Bahkan di puskesmas, jika tdk ber ktp setempat atau tdk pnya kartu bpjs  membayar 15.000 *ditempat saya* Kalau pun dibayari JKN secara penuh, kita tetap mengeluarkan biaya,  setidaknya untuk bensin ke tempat berobat.Tapi ingatkah kemana kita membayar saat kita sehat sepenuhnya?

Allah tidak pernah menagih apapun pada saya, pada kita, saat saya, saat kita sehat. Allah hanya meminta kita, saya bertaqwa,  beriman kepadanya.

Dan bahkan ketika saya, seorang iim, terjun dalam kelalaian, Allah masih tetap Maha Baik. Allah tidak pernah menagih apapun untuk sebuah kata SEHAT.

😭😭😭

  • yang kedua adalah tentang mengantri. Jika anda bukan pasien gawat darurat maupun VVIP anda harus mengambil nomor antrian. Apalagi jika anda pasien bpjs, jkn, jamkesmas dkk nya.

Saya datang ke RS terbesar di Pulau Dewata. Pukul 7.30 pagi. Bahkan bagian parkir belum datang. Untuk antrian bpjs sudah no 551 😱😱😱

Walau ternyata saya tidak harus ikut mengantri disitu karena saya hanya perlu ke Laboratorium *maklum saya pasien  rujukan*

Tapi ternyata di Lab pun mengantri. Dan saya dapat no 102, sedang saat itu baru satu loket yang buka. Dan akhirnya gikiran cek lab jam 10.00.

Nanti. Nanti. Nanti. Di padang Mashyar.
Kita akan mengantri. Saat kita diadili satu persatu.

Sekarang. Sekarang. Sekarang. Kita sedang mengantri menuju kematian kita.

Semoga Allah menjadikan kita, manusia-manusia yang bertaqwa. Aamiin..

Iklan

Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu

Bismillahirramanirrahim~

Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu
Jagalah batasan Allah
Jagalah aqidahmu
Jagalah imanmu
Maka Allah akan menjagamu

Jangan kau duakan Allah dengan lainnya
Karena hanya Allah satu-satunya Pencipta
Selain Allah, semua makhluk

Jangan berharap kepada makhluk
Jangan meminta kepada makhluk
Berharaplah pada Allah yang Maha Baik
Memintalah pada Allah yang Maha Kaya

Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu.
Jagalah ibadahmu
Jagalah sholatmu
Jagalah takbiratul ula
Maka Allah akan menjagamu

Sholat adalah amalan pertama
Yang kelak akan dipertanggung-jawabkan
Dihari Yaumul Hisab

Jika seorang menjaga sholatnya
Menjaga takbiratul ula
Maka ibadah yang lain
Insya Allah akan terjaga

Begitupun jika terlalai sholatnya
Meremehkan takbiratul ula
Maka ibadah yang lain
Akan mudah terlalai

Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu
Jangan dholim pada makhluk Allah yang lain
Bersikap adillah
Bahkan pada hewan dan tumbuhan
Walaupun pada orang kafir

Sayangi apa yang ada di bumi
Maka yang dilangit akan menyanyangimu

Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu
Berbaktilah pada kedua orang tua
Pada ibu yang telah mengandungmu
Juga menyusui dan membesarkanmu
Pada ayahmu yang berpeluh menteskan keringat
Berusaha yang terbaik untuk dirimu

Jangan berkata ‘ah~’
Jangan berkata dengan nada lebih tinggi
Tetaplah hormat pada mereka

Walaupun mereka dholim padamu
Bahkan walaupun mereka seorang kafir

Hak mereka ada padamu,
Selamanya
Mendapat kata-kata baik dari anak-anaknya

Karena bahkan walaupun
Kau menggendongnya berkeliling Ka’bah
Saat thawaf
Sedikitpun belum dapat membalas
Pengorbanan mereka
Untukmu

Istiqomahlah ukhti
Berusahalah
Karena ada surga Allah menanti sebagai hadiah untukmu

Jagalah Allah walau terasa memberatkan diri dan hatimu
Maka Allah akan menjagamu disaat yang paling berat untukmu

-Sedikit ringkasan dari Kajian Rutin SPJ Bali, Masjid An Nur Denpasar, Ahad, 5 April 2015, Pemateri: Ustd. Syahrullah Hamid-

Antrian Kematian

Bismillahirramanirrahim..

-Hanya sedikit galau hati yang berusaha ditumpahkan dalam tulisan-

Akhir-akhir ini, dimedia cukup banyak kabar tentang kematian. Meninggalnya public figure dan tokoh masyarakat. Tapi tidak hanya di media. Ternyata disekeliling pun, beberapa kenalan sudah dipanggil lebih dulu menghadap Sang Pencipta.

Wahai iim, diriku, pernahkah kau bertanya, kapan? Kapan kematian menjemputmu, im? Ah, sejatinya diri ini dan semua manusia, semua sedang mengantri. Mengantri menuju kematian. Mengantri menuju Sang Pemilik Dunia. Sayangnya kau, aku, kita tidak tahu, nomor antrian yang keberapa. Apakah pintu kematian itu sudah dekat, atau masih jauh. Hanya Sang Maha Pencipta yang mengetahui.

Dan~ tidak ingatkah dirimu wahai diri, oleh untaian kata doa yang selalu diucapkan jika seorang hamba kembali kepada pemiliknya. “Semoga amal ibadahnya diterima”. “Semoga diterima di sisi Nya”

Entah kenapa baru kau sadari, kalimat-kalimat sederhana itu, akhir-akhir ini terasa begitu menampar.

Terbayangkah dirimu, ketika suatu saat, meninggalkan dunia ini, dan kalimat-kalimat itu adalah yang akan diucapkan, diberikan kepadamu, diriku.

Hei, siapa yang tahu amal mu diterima? Siapa yang tahu bahwa nanti kau diterima di sisi Nya?

Saya? Hadeuh, saya mah apa atuh. Cuma makhluk. Kamu? sama aja. Sama-sama makhluk.

Siapa yang tahu? Jelas, Sang Maha Pencipta. Sang Maha Hidup.

Tapi entah kenapa diri yang makhluk ini kenapa, begitu.. apa ya.. bebal, bodoh.. Atau mungkin pura-pura bodoh. Lupa. Pura-pura lupa. Bahwa saat kematian datang menjemput, sungguh hanya amal saja lah yang menemani. Amallah yang akan kita bawa.

Amal yang dilakukan disaat masih bernafas. Amal yang dilakukan disaat masih sehat. Amal yang dilakukan dalam detik-detik yang lewat.

Berapa milyar detik yang terlewat tanpa amal baik? Berapa puluh detik untuk amal baik, yang belum tentu diterima? Berapa ratus, berapa ribu, berapa juta detik terlewat penuh dosa dan kesia-sian?
Yakinlah diri, kau yang tau jawabannya. Seberapa lalai dirimu. Seberapa banyak dosamu. Sekecil apa amalmu.

Dan masihkah engkau wahai diriku, tenggelam dalam kepura-puraan. Terhanyut dalam kelupaan. Pura-pura lupa, bahwa engkau adalah calon mayat? Akhirmu adalah tanah berbungkus kafan. Temanmu dalam tanah adalah cacing-cacing dan belatung. Dan kelak dagingmu akan berurai bersama tanah.

Mau sampai kapan? Mau sampai kapan pura-pura lupa?

Segeralah sadar wahai diriku. Sebelum penyesalan datang dan yang lewat tiada bisa terulang. Sebelum antrian kematian memanggilmu.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑